SELAMAT DATANG, INILAH BLOG TERBAIKKU

Sabtu, 08 Oktober 2011

PUISI




KU NYANYIKAN RINDU
Pengarang: Anonim
di sini
di antara kemeriahan dan bintang
aku memilih sunyi
di mana telah kutanam hektaran rindu untukmu
ketika malam berjatuhan
hingga terdampar di pagi
dan untuk kesekian kalinya
aku merasa kau begitu jauh
meski kita masih saling berteduh
di bawah langit yang sama
kekasihku...
jika kau percaya angin adalah satu
jika kau percaya samudera adalah biru
akan kunyanyikan rindu ini
lewat angin, lewat laut
lewat sunyi
dan denting malam









Gadis Suci
Pengarang: Sanca Boy
Buat : Gadis Suciku

kain suci menutupi auratmu….
kebaikan menjadi perinsipmu. dan…
senyum senantiasa menghiasi bibirmu.
gadis suci itulah julukanmu.

gadis berjilbab itulah panggilanmu
yang kan terus terukir dalam hatiku….

oh malaikatku…..
kau sungguh makhluk terindah dalam bumi
yang mampu menerangi hatiku yang gelap

oh malaikatku…..
kau telah merasuki relung hatiku……
dengan kecantikan hatimu

oh malaikatku…..
ku terpana padamu….
sejak pertama ku memandangmu.

Senin, 03 Oktober 2011

cerpen

Tangisan Seorang Sahabat
Oleh : Ristiani*
Di malam yang begitu sunyi ini, hembusan angin angin sepoi-sepoi masuk lewat cela-cela kecil ke dalam kamar Rina. Sunggu malam Selasa yang mencekam. Rina di dalam kamar ternyata tidaklah seperti keadaan malam yang sunyi itu. Dia sibuk menelpon sahabatnya Bian, berulang-ulang dia menelpon tetapi tidak ada yang mengangkatnya. Akhirnya teleponnya pun diangkat oleh Bian. Bian adalah sahabat Rina dari SD sampai kapanpun.
Hallo!! bisa bicara dengan Bian? ” tanya Rina.
Ya,saya sendiri. Emang ada apa Rin?” Jawab Bian.
Ian,lho jadi nggak jemput gue besok pagi?”.
Jadi kox. Oh ya Rin jam berapa ne gue jemput lho?”.
Em.. jam 06.30 aja!! Jadi lho nggak lama nunggunya”.
Ok dhe!!!”. Jawab Bian.
Gue tunggu besok!!! Uda dulu ya gue dipanggil mama ni”. Kata Rina mengakhiri teleponnya.
Keesokan paginya Bian datang ke rumah Rina mengendarai motor besar andalanya. Sampai di rumah Rina dio menotok pintu dan mengucapkan salam.
Assalammu’alaikum..Rin..Rin!!!”( Bian memanggil Rina sambil menotok pintu ).
Rina dari dalam kamarnya langsung berlari membukakan pintu.
Wa’alaikum salam” jawab Rina.
Rina mempersilakan Bian masuk dan menyuruhnya menunggu sebentar karena dia mau berpamitan dahulu dengan papa dan mamanya. Setelah pamit dia langsung pergi dengan Bian.
Bian dan Rina yang berteman dekat memiliki sifat yang jauh berbeda, tetapi dengan perbedaan itu mereka dapat saling menutupi. Mereka sekarang duduk di kelas XII di SMA Negeri Cinta Bunda. Rina Si Cantik yang berambut panjang itu memiliki sifat yang kurang dawasa dan masih kekanakan. Berbeda dengan Bian, dia sosok cowok yang perhatian dan dewasa, serta slalu pengertian dengan Rina.
Sampai di sekolah mereka bersama-sama berjalan menuju kelasnya masing-masing. Di depan kantor mereka pisah.
Ian duluan ya..bye..!!” Kata Rina.
Ya, hati-hati.” Jawab Bian.
Rina berjalan menuju kelasnya, sampai di dalam kelas dia menyapa teman-teman kelasnya. Dia langsung meletakkan tas dan duduk. Rina menoleh ke kiri dan ke kanan mencari Dilia teman sebangkunya.
Juwita,,lho tau nggak Dilia di mana? Tanya Rina kepada teman kelasnya itu.
Tadi si gue lihat dia lagi ke kantin.” Jawab Juwita.
Ow gitu. Makasih ya ta.” Kata Rina sambil tersenyum.
Sama-sama.” Jawab Juwita sambil tersenyum membalas senyuman Rina.
Rina pergi keluar kelas menuju kantin mencari Dilia. Di dalam kantin dia melihat Bian yang sedang duduk sendirian, tujuan pertamanya mencari Dilia, karena di situ dia nggak melihat Dilia..ehh ketika bertemu dengan Bian Rina langsung mendekati Bian.
Hai Ian!! kok lho sendirian aja si ? Biasanya kan lho dengan teman lho si Edo.” Tanya Rina basa-basi.
Eh lho Rin. Si Edo lagi nggak masuk, jadi ya gue sendirian aja ke kantinnya”. Jawab Bian.
Kok Edo nggak masuk sih!! Emang dia ke mana?” tanya Rina penasaran.
Dia lagi sakit. Emangnya kenapa?” Bian balik nanya sama Rina.
Nggak apa-apa kok cuma nanya aja. Jawab Rina.
Lho sendiri ngapain ke kantin? Tumben pagi-pagi lho ke sini, biasanya enggak pernah.” Tanya Bian meledek.
Gue tadi sih ke sini niatnya mau nyari Dilia, tapi nggak ketemu. Tiba-tiba gue ngeliat lho ya uda gue samperin aja.” Jawab Rina kesal.
Aduh..aduh..kok jawabnya muka lho ditekuk kayak gitu?” Tanya Bian sambil menggoda Rina.
Abisnya lho sih yang buat gue kesel, gue pertama kalinya ke sini pagi hari ehh lho malah ngeledek gue kayak gitu.”
Ya deh gue nggak bakal lagi ngomong kayak gitu, maafin gue deh.” Kata Bian mencoba merayu Rina agar Rina tidak marah lagi dengannya.
Ya deh gue maafin.”
Setelah agak lama mereka ngbrol bel masuk berbunyi. Merekapun kembali ke kelasnya masing-masing. Biarpun mereka sudah lama berteman, tetapi Rina selalu saja di buat oleh Bian kesal karena dia slalu menggoda Rina.
Setiap hari apabila istirahat tiba, Bian slalu mengajak Edo ke kantin. Edo adalah satu-satunya orang yang mengetahui bahwa Bian mencintai Rina dan Edo jugala orang yang di percayai oleh Bian untuk menyimpan rahasia itu agar tidak menceritakannya dengan orang lain terutama Rina. Hari itu Bian bercerita dengan Edo bahwa dia ingin mengungkapkan perasaan itu kepada Rina. Pertama Edo kaget dengan keputusan Bian, tetapi Bian dapat meyakinkan sahabatnya itu. Akhirnya Edo mendukung keputusan Bian.
Do, enaknya ngomongin itu sama Rina di mana ya?” Tanya Bian.
Lho yang mau ngomongin itu kok nanyanya sama gue sih!!!” Jawab Bian.
Sebagai teman yang baik lho harus bantuin gue dong, gue bingung nih nentuin tempatnya di mana” Kata Bian.
Emmm..gimana kalau besok lho ajak dia ke taman sekolah aja!!!” Edo memberi saran.
Bagus juga tu ide elo. Makasih ya Do.”
Ya sama-sama.”

Besoknya ketika istirahat tiba, Bian ke kelas Rina untuk mengajaknya ke taman. Rinapun ikut dengan Bian. Mereka Sampai di taman mereka duduk di bangku yang ada di taman itu.
Kok elo ngajak gue ke sini sih, emang lho mau ngomong apa?” tanya Rina penasaran.
Kayaknya sekarang deh gue ngungkapin ini sama dia, gue nggak tahan lagi nyimpen ini dalam-dalam.” ( pikir Bian dalam hati)
Ian kok lho ngelamun si? ” tanya Rina.
ahh.. gue nggak ngelamu kok. ”
Bian mulai bicara serius sama Rina, tapi dia menanggapinya biasa saja.
Rin. Gue boleh nggak jujur sama elo? ” tanya Bian.
Boleh aja kok. Omongin aja!!!” jawab Rina.
Gue itu sebenarnya... Gue itu sebenarnya...emmm.. Gue itu sebenarnya...” Bian berkata terpata-pata.
Lho itu mau ngomongin apa sih? Cerita aja, nggak apa-apa kok.” Kata Rina lembut menenangkan Bian.
Dia mengurungkan niatnya itu dan langsung mengalihkan pembicaraan agar Rina tidak curiga dengan tingkahnya hari itu.
Tidak terasa sudah tiga tahun mereka di SMA. Bian dan rina lulus dengan nilai yang cukup memuaskan. Mereka mendaftar kuliah di perguruan tinggi faforit di bandung. Mereka mengikuti tes dan lulus melewati tes itu. Bian dan rina sangat senang karena mereka kuliah di tempat yang sama. Untuk merayakan kelulusan itu, mereka jalan-jalan keliling Bandung. Mereka berdua ke bioskop belanja kebutuhan untuk kuliah dan lain-lain.
Ian gue capek nih. Istirahat dulu ya iya deh tuan putri.” Kata Bian sambil menundukan kepalanya dan tersenyum.
Anterin gue pulang ya Ian!!!” kata Rina mengeluh.
Iya deh gue anterin, tenang aja kok.” jawab Bian
Mereka langsung pulang menuju rumah Rina. Bian dan Rina sampai juga di rumah Rina. Rina turun dari motor begitupun dengan Bian.
Ian mampir dulu yuk!!! Ada papa and mama gue, udah lama kan lho
Nggak ngobrol-ngobrol sama mereka”.
Boleh juga tuh. Gue kangen sama mama and papa lho Rin”.
Tok...Tok...Tok...Assalamu’alaikum.” Rina mengetuk pintu.
( dari dalam rumah ada yang menjawab salam dan membukakan pintu)
“Wa’alaikum salam.” Jawab mama Rina.
Mama..Rina mencium pipi mamanya. Nih ada Bian, dia yang nganterin Rina pulang. Sekalian aja Rina ngajak dia mampir dulu.”
Siang tante.” Sapa Bian sopan.
Siang juga Bian.” Jawab mama Rina.
Mamanya langsung mangajak mereka masuk. Di dalam rumah papa Rina sedang duduk di ruang tamu sambil membaca koran. Papa Rina yang melihat Bian langsung manyapa Bian dengan ramah. Papanya Rina menanyakan kabar Bian dan keluarganya. Keluarga Rina sangat baik dengan keluarga Bian karena papa mereka bersahabat.
Hari minggu pagi, Bian menelpon Rina dan mengajaknya pergi menonton. Rina menerima ajakan itu. Bian menjemput Rina, mereka langsung pergi ke tempat bioskop. Tidak seperti basanya, hari itu dia tidak banyak bicara dan dia hanya diam membisu. Sampai di gedung bioskop Bian membeli 2 tiket.Melihat Rina seperti itu Biat mengurungkan niatnya masuk ke dalam ruangan bioskop. Dia langsung mengajak Rina pulang dan mengantarnya. Sesampainya di rumah Rina, Rina memberikan sebuah surat kepada Bian tanpa seepata katapun yang terucap dari bibirnya. Dia langsung masuk ke dalam rumah. Bian masih bingung melihat tingkah Rina yang berbeda hari itu. Bian belum membuka surat itu, lalu langsung pulang saja ke rumahnya. Sampai di rumah ia langsung masuk kamar. Barulah ia membuka surat itu. Di dalamnya tertulis surat undangan pernikahan antara Rina Anggraini dengan Danu Saputra. Rina menikah dengan laki-laki pilihan orangtuanya sendiri. Bian yang melihat semua itu langsung kaget. Dia tidak percaya bahwa Rina akan menikah dengan orang lain bukan dirinya. Dia tidak percaya karena Rina tidak pernah cerita sekalipun bahwa dia telah dijodohka oleh orangtuanya. Dia sangat terpukul dengan kenyataan itu dan tidak menyangka semua itu bisa terjadi kepadanya.
Hari pernikahan Rina pun tiba. Semua tamu undangan sudah hadir semua kecuali Bian. Bian masih di rumahnya, dia bingung datang atau tidak ke pernikahan sahabatnya sekaligus orang yang paling dia cintai itu. Akhirnya, dia memutuskan datang ke pernikahan itu karena dia harus menjadi laki-laki yang tegar dan bisa menghadapi semua itu. Dia datang ke rumah Rina, dari luar dia melihat Rina yang tersenyum manis di pelaminan. Ketika masuk di dalam rumah, tiba-tiba Bian langsung di panggil ke atas panggung oleh pembawa acara untuk menyanyikan sebuah lagu untuk menghibur para tamu undangan yang telah hadir. Bian naik panggung, sebelum bernyanyi dia berkata bahwa lagu yang ia akan nyanyikan dipersembahkanya untuk sahabatnya Rina. Setelah bicara dia lagsung bernyanyi. Dia menyanyikan lagu itu penuh dengan penghayatan, karena sedih dan tidak bisa lagi menahanya lagi air matanya jatuh begitu saja. Dia langsung menghapus air matanya tersebut.
Selesai bernyanyi dia langsung pergi meninggalkan rumah itu. Dia mengendarai motornya di jalanan tanpa ada kendali sama sekali. Emosinya tidak terkendali, sehingga ia ngebut-ngebutan di jalan. Bian berharap semoga dengan begitu ia kecelakaan dan meninggal dunia sehingga tidak menanggung derita itu lagi. Tapi, sesuatu yang ia harapkan tidak terjadi kepadanya. Lalu ia berfikir, untuk apa dan mengapa dia lakukan semua itu. Wanita yang dicintainya sudah menjadi milik orang lain. Jadi, percuma saja ia lakukan itu semua.
Gue akan kembali Rin ke rumah elo. Gue akan ngasih selamat untuk elo.” Kata Bian sambil memutar arah motornya dan kembali menuju rumah Rina.
Sampai di rumah Rina, Bian bingung kenapa rumah itu sudah sepi. Ia melihat pembantu yang sedang menutup pintu depan.
Lho... Tunggu-tunggu bentar bik!!! Kok rumahnya sepi? Terus Rina dan suaminya ke mana?” Tanya Bian sedih.
Maaf den. Nyonya Rina sudah pergi bersama suaminya. Papa dan mama non Rina juga ikut mengantarnya.” Jawab pembantu itu.
Sang pembantu langsung menutup pintu, sedangkan Bian tersungkur di depan rumah Rina sambil menangis.
Gue kembali ke sini hanya untuk melihat elo terakhir kalinya Rin. Tapi,kenapa elo langsung pergi? Padahal gue baru mau ngasih selamat untuk pernikahan lho hari ini. Gue ikhlas ngelepas elo Rin. Asal elo bahagian dengannya gue juga akan ikut bahagia.” Teriak Bian sambil menangis.
Rin, gue janji sampai kapanpun gue akan slalu mencintai dan menunggu elo kembali kepada gue...sampai gue udah nggak bernyawa lagi..Gue Janji Rin...!!!
Bian dan Rina yang sama-sama mempunyai perasaan cinta tidak pernah sekalipun mereka mengungkapkan isi hati mereka karena sama-sama tidak berani, sehingga mereka tidak mengetahui satu sama lain kalau mereka saling mencintai. Mereka hanya bercerita dengan dekatnya saja yang di anggap bisa menyimpan rahasia itu. Itulah mengapa cinta mereka tidak pernah terucapkan. Pada akhirnya Rina menikah dengan seorang pengusaha muda pilihan orangtuanya, sedangkan Bian sedih dalam penyesalan.
Apabila kamu mencintai seseorang, ungkapkanlah dengan orang itu, biarpun jawaban dari mereka kadang membuat kita terluka dan kadang juga membuat kita bahagia. Daripada kita nantinya akan menyesal seumur hidup kita.


ringkasan novel

 SANG PEMIMPI
 
Cerita ini mengisahkan tentang tiga anak Belitung yang memiliki semangat belajar yang tinggi dan bercita-cita meneruskan sekolahnya sampai ke Eropa.Diawali dengan seorang anak yang bernama ikal.Dia mempunyai dua orang sahabat yang sangat ia sayangi,yaitu Arai dan Jimbron.Ikal memiliki mata yang indah yang berwarna cokelat,kulitnya berwarna hitam manis,ia juga anak yang pintar.Kedua adalah Arai,ia anak yatim piatu karena orang tuanya meninggal dunia ketika masih kecil.Arai memiliki wajah yang tampan,selalu ingin mencoba hal yang baru ditemuinya,tidak mudah menyerah,dan ia pintar.Ketiga adalah Jimbron,tubuhnya gemuk,tambuh,invalid,polos,ia tidak pintar seperti kedua temanya,dan apabila ia terlalu senang ia berbicara gagap.Jimron anak yatim piatu,kedua orangtuanya meninggal ketika ia masih kelas empat SD.Lalu,Jimbron diangkat menjadi anak asuh oleh Pendeta Geovanny.
Karena di kampung mereka tidak ada SMA. Setelah tamat SMP,Arai,Ikal,dan Jimbron merantau ke Magai untuk melanjutkan SMA di sana. Pada saat itu,PT Timah Belitong tempat orang-orang Melayu bekerja dan termasuk ayah Ikal,melakukan PHK bergelombang terhadap kariawannya. Demi melangsungkan sekolahnya,mereka bekerja untuk membantu ke dua orang tuanya.Pekerjaan yang pernah mereka dapatkan,seperti menjadi penyelam di padang golf,part time office boy di kantor pemerintah,dan lain-lain. Setelah berbagai pekerjaan mereka coba. Akhirnya,mereka mendapatkan pekerjaan tetap yaitu kuli ngambat di pasar. Mereka menyewa kontrakan dekat mereka bekerja. Tidak ada kata mengeluh dari mereka,demi sekolah apapun mereka lakukan.
Setelah tiga tahun mereka bekerja dan sekolah,susah senang mereka jalani bersama. Akhirnya,mereka dapat menamatkan SMAnya. Ikal dan Arai bercita-cita kuliah di Jakarta dan merantau di sana. Jimbron tidak ikut dengan mereka karena ia lrbih memilih untuk tetap tinggal di Belitong dan menikah dengan Laksmi. Akhirnya , tiba waktunya Arai dan Ikal pergi ke Jakarta. Setelah lima hari mereka berlayar merekapun tiba di Jakarta
Arai dan Ikal sangat kagum dengan suasana di Jakarta yang jauh berbeda dengan kampungnya. Tujuan mereka ke Ciputat ternyata gagal,karena mereka salah naik bus akibatnya mereka terdampar di Bogor. Mereka mencoba mencari kontrakan di Bogor,merekapun mendapatkan kontrakan yang berdinding gedek bambu dan berlantai semen yang sebagian telah menjadi tanah. Kontrakan mereka dekat dengan IPB. Mereka melalui hari demi hari dengan terus berusaha.Dengan berbekal ijaza SMA mereka mencari pekerjaan. Akhirnya ,mereka berdua mendapatkan pekerjaan.
Arai dan Ikal mencoba berbagai jenis pekerjaan,tetapi tidak berhasil dan selalu gagal. Pada akhirnya,Ikal mendapatkan pekerjaan tetap yaitu menjadi pegawai pos. Arai masih tetap bekerja di kios fotokopi IPB. Tapi,tidak beberapa hari Ikal bekerja,Arai pergi dan tidak meninggalkan surat.
Akhirnya ,setelah empat tahun Ikal kuliah,ia berhasil menyelesaikan kuliahnya. Ikal mendaftar menjadi peserta beasiswa Pendidikan Strata Dua yang dibuka oleh Uni Eropa. Ia mengikuti berbagai macam tes dan melewatinya dengan sukses. Pada saat tes penentuan,yaitu tes wawancara. Ikal diwawancarai oleh seorang profesor,tapi ia merasa kurang percaya diri dan berpendapat bahwa dirinya kurang baik dalam wawancara. Selesai wawancara Ikal bertemu dengan Arai. Ikal sangat bahagia bisa bertemu lagi dengan Arai. Ternyata Arai juga mengikuti tes tersebut. Mereka langsung pulang ke Belitong. Berminggu-minggu mereka menunggu surat hasil tes tersebut,pada akhirnya,surat tersebut datang. Arai dan Ikal membuka surat tersebut. Apa yang terjadi? Ternyata mereka berdua lulus. Universitas yang menerima mereka sama,yaitu Universite de Paris,Sorbonne,Prancis.



BY : ANDREA HINATA